Selasa, 04 Mei 2010

HoRror

“ Paman! Paman, bangun, dong...temenin aku pipis...” alief berbisik di balik selimut sambil menggoyang-goyangkan Pamannya agar bangun. setelah berupaya keras, akhirnya ia terbangun juga.
“ ada apa, alief? Paman masih ngantuk, nih....”
“ paman, temenin aku pipis dong,” alief berkata lirih
“ pergi saja sendiri” katanya sambil memejamkan kembali matanya.
“ duuh..paman tolong dong, aku takut nih!”
Pamannya kembali terbangun dan berkata “ kamu kan biasanya berani sendirian?”
alief menggigit bibirnya.
" ya udah, paman tidur lagi, ya..”
“ eh, Paman! Aduuh..paman! bangun dong temani aku pipis! Paman!” meskipun berteriak sekencang mungkin, percuma saja. Pamannya pun sudah tidur pulas, pake ngorok lagi!
Keesokannya, Paman menanyakan kenapa Alief tidak seperti biasanya yang berani menghadapi apapun. Alief pun menjawab: “ semalam aku nonton film horror sampai jam setengah satu malam, jadinya teringat-ingat terus.” Jawab Alief polos tanpa janggal sedikitpun. Namun tiba-tiba, Paman Alief tertawa terbahak-bahak.
“ paman kok ketawa, sih?” Alief malah garuk-garuk kepala.
“ ya ampun Alief...Alief, yang namanya juga film, jangan di percaya! Itu kan Cuma buatan manusia, emangnya ada orang yang mati di bunuh setan?” Paman Alief menjelaskan dengan nada seolah meledek.
“ huh! Kesel!”

Di sekolah saat jam istirahat………

“ Hantuuuuu!!! Haantuuu!!!” Irin berteriak dari dalam toilet dan berlari dari dalam toilet tanpa hati-hati. Tentu saja semua murid heran melihatnya, lalu semuanya pun menghampiri Irin.
“ ada apa, Irin? Kamu lihat hantu!! Hantunya seperti apa? Tinggi, ada jenggotnya, brewokan, atau….pakai baju adat?!!” Tanya Alief dengan tergesa-gesa.
“ VAMPIIR!!! Vampiiir!!! Hantu yang di dalam itu vampir!!” teriakan Irin di dengar oleh guru-guru yang sedang piket dan langsung menuju Irin beserta teman-temannya yang lain.
“ Kenapa ini, anak-anak?” Bu Winda bertanya kepada sejumlah murid-muridnya.
“ Irin melihat Vampir di toilet, Bu!” chika menjelaskan kepada Bu Winda.
“ Vampir? Masa? Kalo vampire, ibu juga takut…soalnya, dia kan menghisap darah manusia! Hi……” Bu Winda malah ikut-ikutan seperti anak kecil.

Meskipun takut, Alief memberanikan diri untuk bergaya sok dewasa.
“ aduuh…Ibu ini gimana, sih? Masa sama hantu aja takut?” Alief berkata sok jago. Padahal, dia sendiri juga takut.
“ oh iya, kalau begitu, kenapa tidak Alief saja yang ke sana? Bukankah alief itu pemberani?” Alfa mengusulkan.

Tiba-tina, wajah Alief pun pucat.
“ eh, aku? Aku?aku?aku?aku?” alief seakan terkubur hidup-hidup. Bukankah ia kan takut sama hantu gara-gara film horror itu?

Tapi Alief tetap memberanikan diri.
Tenang Alif, tenang…itu Cuma film, dan film itu manusia yang membuatnya……bukan kenyataan…batin Alief.

Namun entah mengapa setelah memikirkan hal itu, Alief merasa lebih tenang. Dengan perlahan Alief membuka pintu toilet dan…………………....

“ tidak ada apa-apa, kok! Tidak ada hantu di sini, mungkin kamu salah lihat Irin,” alief berkata dengan nada pelan, tapi terdengar juga suara yang lega darinya.

“ huh..!” semua anak-anak termasuk Bu Winda bernafas lega.

“ apa mungkin?” irin malah bertanya pada dirinya sendiri
“ mungkin apa, Rin?” Acha bertanya pada Irin.

“ mungkin ini hanya hayalanku saja, soalnya kemarin malam aku nonton film horror vampir sampai jam setengah satu malam, jadi sekarang aku penakut…”

Itu kan film yang aku nonton? Alief berfikir dalam hati.
Huh! Gara-gara film horror, sih! Coba kalau film itu tidak ada!



By: Millati Amalia.

0 komentar:

Poskan Komentar